Dibandingkan Dengan Beberapa Negara, BPIH Indonesia Terbilang Murah
2 November 2015Jakarta (Sinhat)--Pelaksanaan ibadah haji 2015 sudah berakhir, bahkan rombongan terakhir jemaah haji Indonesia sudah tiba di Tanah Air.
Dari tiga kali pengalaman berhaji, pada 1999, 2003 dan 2015, banyak kemajuan yang saya catat dalam pelayanan haji yang diberikan pemerintah.
Sebagai penyelenggara haji, layanan yang diberikan pemerintah itu mulai dari layanan sebelum keberangkatan, di embarkasi, Arab Saudi dan kembali ke Tanah Air.
Saat di Arab Saudi, ada pemondokan, transportasi Bus Salawat dari pemondokan ke Masjidil Haram, saat wukuf, serta pemberian makan siang gratis saat di Makkah. Sedangkan di Madina, pemondokan dan makan plus snack berat selama berada di sana.
Semua yang didapat jemaah haji adalah dari apa yang mereka bayar, yang bila dihitung nominalnya saat pelunasan, nilainya berkisar antara 36 juta hingga 40 juta rupiah.
Variasi besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) itu, sangat tergantung daerah asal jemaah haji dan nilai tukar rupiah terhadap dollar saat itu.
Tapi BPIH bagi jemaah haji Indonesia dibandingkan dengan BPIH sejumlah negara terhitung sangat murah, bahkan bila dibandingkan dengan BPIH bagi orang-orang yang tinggal di Arab Saudi sendiri.
Menurut jemaah haji asal Banglades, Azizurrahman, dia membayar setara 42 juta rupiah untuk BPIH perjalanan haji selama 38 hari. Fasilitasnya pun tidak lebih baik dari yang diterima jemaah haji Indonesia. "Kami membayar sebesar itu," kata petani yang tinggal di kota Dakka itu.
Hal yang hampir sama dikemukakan Abdurrahim asal Malaysia. Jemaah haji asal negeri jiran itu membayar sekitar 60 juta rupiah dengan jumlah hari tinggal yang hampir sama dengan jemaah haji Indonesia.
Apa yang dikatakan pegawai di kawasan Putra Jaya itu, dikuatkan jemaah haji asal Malaysia lainnya, M Noor, dia membayar BPIH sebesar 67 juta rupiah.
Warga Saudi Arabia, Abdullah Ahmad, mengatakan, kendati mereka tinggal di Saudi dan dekat dengan Makkah, orang Saudi tidak bisa sembarangan naik haji, mereka harus menunggu selama lima tahun.
Hal itu sebutnya, untuk membatasi agar orang Saudi yang berhaji juga sesuai dengan kuota yang ada. "Tidak serta merta kami yang warga Saudi seenaknya berhaji, tapi ada aturannya juga," kata warga yang tinggal di kawasan Kandara, Jeddah itu.
Bahkan sebutnya, BPIH dari Jeddah mencapai 10.000 riyal Saudi per orang atau sekitar 30 juta rupiah untuk pelaksanaan selama enam hari musim haji, selama 8-13 Dzulhijjah.
BPIH sebesar itu untuk biaya pemondokan, selama di Mina dan Arafah, serta biaya konsumsi selama musim haji itu. "Uang sebesar itu juga kami gunakan untuk membayar izin berhaji melalui pengelola travel haji," katanya.
Bila dibandingkan dengan BPIH di beberapa negara itu, maka BPIH Indonesia terbilang murah.
Para jemaah haji Indonesia membayar BPIH dari setiap tahun juga berbeda-beda besaran dolarnya, karena BPIH ditetapkan dengan dolar. Tapi dari tiga kali pengalaman berhaji, penulis merasakan peningkatan mutu pelayanan yang diberikan.
Peningkatan pelayanan misalnya pada fasilitas pemondokan. Pada 1999, kamar tidur hanya berisi kasur busa tanpa dipan. Sedangkan pada 2003 sudah menggunakan kasur busa dengan rajang besi dan pada 2015 menggunakan spring bed.
Layanan makan siang gratis di Makkah maupun di Madinah juga lebih pasti menunya. "Dengan demikian kita sudah punya bayangan sebelumnya, akan fasilitas yang kita dapatkan," kata jemaah haji asal Denpasar, Azwar Rustam.
Menurut Azwar, kualitas pemondokan juga terus membaik. Tapi sebutnya, itu sejalan dengan meningkatnya pembangunan di Saudi Arabia, dimana bangunan hotel lama, dibongkar dan dibuatkan bangunan baru. (republika/ar
