Tingkat Kesalehan Sosial Jamaah Haji Indonesia Belum Memuaskan
11 Desember 2012Jakarta (Sinhat) -- Jutaan umat Islam Indonesia telah menunaikan ibadah haji. Bahkan, belum lama ini, dilaporkan, sekitar 200 ribu umat Islam telah kembali dari Tanah Suci Mekkah. Mestinya, mereka ini memiliki potensi besar untuk mengaktualisasikan ajaran Islam secara lebih sempurna untuk kemaslahatan umat. Misalnya, peningkatan kesalehan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggal para jamaah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, mengatakan saat ini telah terjadi kemunduran kesalehan sosial di tengah-tengah umat. “Khususnya di lingkungan jamaah haji Indonesia,” tegasnya usai menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Wilayah III, Majelis Ulama Indonesia di hotel Gren Alia Prapatan, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa malam (07/12) lalu. Mestinya, sambung dia, keberadaan jutaan jamaah haji, memiliki nilai strategis buat perbaikan ekonomi masyarakat keseluruhan.
“Ia merupakan pintu masuk bagi rasa kepedulian kita terhadap kondisi ekonomi masyarakat miskin,” ujarnya. Singkatnya, lanjut dia, selain ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, ibadah haji juga harus dijadikan sebagai sarana menolong sesama. “Khususnya bagi yang sedang mengalami kesulitan hidup,” pungkasnya. Sekembali dari tanah suci, ucap dia, tidak berubah. Alias gagal mengaktualisasikan potensi besar ibadah haji untuk peningkatan kesalehan sosial.
“Tidak ada yang berubah, kecuali penembahan huruf ‘H’ atau ‘Hj’ di depan nama mereka. Bahkan data Maret 2012 dari Badan Perencana Pembangunan Nasional menyebutkan jumlah populasi rakyat miskin Indonesia 29,13 juta orang,” tutur Ma’ruf prihatin. Padahal, kata dia, ketika zaman Rasulullah, sahabat, dan tabi'in pengunaan gelar haji di depan nama tidak pernah dilakukan. Karena itu, penggunaan gelar haji sesungguhnya berpotensi merusak kesucian nilai ibadah itu sendiri. (Mario)
